Perjalanan Awal Belajar Finansial
Belajar 'Melek' Finansial
(My Financial Journey)
Ada beberapa tahap dasar yang kita lalui dulu, sebelum saya bisa mulai belajar finansial.
1. Pemasukan > Pengeluaran
Tau dari mana itu sudah tercapai? Kita mulai dari catat pengeluaran dulu. Sehingga kita tau berapa yang kita keluarkan per bulan, kemana kita keluarkannya, hingga akhirnya kita bisa susun strategi buat lihat apakah ada yang bisa dihemat dan budgeting. Lakukan ini minimal 3 bulan.
Kategorikan pengeluaran dan rutin catat. Kita bisa pakai aplikasi di handphone, sehingga ketika keluar uang, bisa langsung catat saat itu juga. Hal yang wajar untuk berubah ubah. Saya pernah coba di buku ataupun aplikasi handphone. Saya juga pernah coba catat pemasukan dan pengeluaran dengan detail, bahkan sampai jumlah uang di dompet. Gagal beberapa kali. Salah satunya karena uang di dompet tidak sama dengan buku catatan, akibat uang kembalian/uang parkir yang tidak ditaruh di dompet. Hingga akhirnya saya cukup catat pengeluaran aja di handphone. Ini bukan catatan terbaik, tapi setidak nya saya tau gambaran besar pemasukan (dari gaji / transferan orang tua) dan pengeluaran.
Kenapa harus 3 bulan? Supaya kita sudah bisa mulai lihat gambaran umumnya: Belanja bulanan habis berapa, Makan habis berapa, Transport habis berapa, Beli baju / skincare habis berapa, dan seterusnya. Setelah kita tau, kita baru bisa budgeting.
Tujuan akhirnya, kita harus pastikan Pemasukan > Pengeluaran. Kalau belum, cari dulu pengeluaran apa yang bisa dikurangi atau dihilangkan. Misal, beli baju. Apakah bisa beli baju nya nanti dulu setelah gaji kita naik. Atau, beli baju nya dikurang in. Dari tiap bulan beli 1 baju sekitar 100 ribu, jadi beli baju tiap 2 bulan, sehingga kita budget kan uang beli baju per bulan 50 ribu.
Terkait budgeting, ada banyak cara nge budgeting. Buat pemula, umumnya 50:30:20. 50% dari penghasilan untuk kebutuhan sehari hari (cicilan, belanja umum, makan, kos, dsb), 30% untuk keinginan (beli baju/skincare, nonton bioskop, dsb), dan 20% untuk tabungan. Tapi, kalau sudah paham, sebaiknya disesuaikan dengan tujuan kita. Misalnya, ada yang 40:30:20:10, dimana 40% kebutuhan sehari hari, 30% keinginan, 20% tabungan, 10% perpuluhan/zakat. Ada juga yang karena tinggal sama orang tua sehingga pengeluaran kebutuhan sehari hari bisa minimal dan ingin nabung, sehingga budgeting nya 20:10:40:10. Dimana 20% kebutuhan sehari hari, 10% keinginan, 40% tabungan, 10% perpuluhan/zakat. Ada juga yang tidak pakai %, tapi nominal, atau bahkan campuran. Misalnya 1 juta kebutuhan sehari hari, 500 ribu keinginan, 2 juta tabungan, 10% perpuluhan / zakat.
2. Punya Dana Darurat
Kita udah bisa catat pengeluaran dan budgeting. Kita sudah bisa mulai menabung. Tapi, tabung semua uang di bank tidak cukup. Karena banyak biaya yang justru menggerus uang kita. Artikel di tirto ini cukup menjelaskan. Ketika kita simpan uang di bank, umumnya bunga kurang dari 2% /tahun (bahkan umumnya tidak sampai 1%). Lalu dipotong pajak tabungan 20%. Dipotong juga biaya administrasi 5-15 ribu/bulan. Terakhir, ada inflasi sekitar 2-3% tahun (data dari BI). Oleh karena itu, mulai banyak orang yang ngomong 'investasi'.
Tapi, sebelum investasi, kita harus punya dana darurat dulu. Intinya, kalau sampai ada kondisi darurat, dimana secara mendadak ada pengeluaran yang besar (sakit atau kecelakaan) atau tidak ada pemasukan (di PHK), itu tidak akan mengganggu alur kas bulanan dan masih bisa bertahan hidup.
Detail dana darurat sudah pernah saya bahas di artikel ini.
3. Mulai Investasi !
Sesuai alasan sebelumnya, dimana ketika kita menabung di bank, uang kita tiap tahunnya akan tergerus, akibat biaya admin dan inflasi yang tidak sebanding dengan bunga bank.
"Eh, tunggu. Investasi itu judi, tidak sih?"
"Bagaimana kalau uang kita justru hilang?"
Iya, dulu saya juga takut. Tapi, ternyata banyak investasi yang hampir tidak ada risiko. Investasi itu bukan cuma saham. Ada banyak banget, dan menganut "Low risk, Low return. High risk, High Return".
Banyak banget jenis investasi, berdasarkan jangka waktu dan risiko. Deposito juga investasi lho. Ada bunga deposito sekitar 5%-6%, yang meskipun kecil, setidaknya uang kita tidak tergerus inflasi. Atau yang lagi ngetren saat artikel ini ditulis, ORI-17 (semacam obligasi) dengan bunga (disebut 'kupon') yang lebih besar. Jenis investasi yang diambil sebaiknya disesuaikan dengan tujuan investasi. Misal, dari jangka pendek atau panjang.
Komentar
Posting Komentar