Asumsi v.s. Realita tentang Saham

Beli Saham Pertamaku

    Bulan ini, saya pertama kali beli saham. Cuma 1 lot (unit terkecil pas beli saham). 

    Tidak apa apa, sebagai awalan saya masuk ke alat investasi saham.

Sebelumnya, ada banyak KETAKUTAN yang dulu saya pikir tentang saham

  1. JUDI
    Dulu saya kira beli saham itu judi. Kita coba beli dan berharap bisa untung besar pas jual. Saya tidak tau masa depan, jadi ini 50:50 bisa untung, bisa rugi. Saya tidak mau ini.
    Kenyataannya, itu judi kalau kita tidak ada ilmunya. Ketika belajar, saya baru tau ada saham yang cenderung aman (tapi ingat, low risk, low return).
    Misalnya dengan beli saham blue chip perusahaan besar yang pasaran dan produknya kita kenal, seperti BCA, BRI, BNI. Mandiri, Telkom, Unilever, Indofood, dsb itu bisa meminimalkan risiko dibanding saham yang produknya kurang kita kenal.
    Apalagi di masa sekarang, banyak juga narasumber di youtube, instagram, webinar dsb yang mengajarkan cara analisa perusahaan untuk bantu kita pilih beli saham apa.
    Bahkan trading itu juga ada ilmu nya, seperti model chart ini adalah ketika mau naik atau turun.

  2. RISIKO TINGGI
    Karena pergerakannya tiap detik bisa naik atau bisa turun. Banyak cerita yang sukses dan untung besar di saham, tapi saya tau bersama itu juga risiko yang besar.
    Kenyataannyamanajemen risiko. Semua hal itu ada risiko, baik besar maupun kecil. Tapi kita juga bisa mengelola nya.
    Misalnya, saya yang tipe konservatif yang mau 'aman - aman' saja, makanya seperti di postingan sebelumnya saya beli saham bluechip. Posisi dia di pasar nya sudah kuat, sehingga ke depan kemungkinan besar untung terus sehingga harga saham semakin mahal.
    Selain itu, saham adalah investasi jangka panjang. Meski saham bluechip yang kita beli kemarin, hari ini turun, tapi saya tau 5 tahun lagi pasti naik. Seperti grafik di poin bawah, meski sempat turun dia naik lagi.

  3. MAHAL
    Dulu saya kira saham ini buat orang yang kaya. Karena kupikir kalau beli butuh uang berjuta-juta. Karena saya tau ketika belajar ada kemungkinan rugi. Tapi dibanding Peer to Peer Lending atau Reksadana yang bisa mulai dari 10.000, atau 100.000 sehingga kalau hilang saya saat ini masih tidak apa apa. Anggap saja 3 atau 4 kali uang makan. Tapi kalau jutaan, saya bakal kepikiran terus.
    Kenyataannyabisa dimulai dari puluhan ribu.

    Misalnya, Telkom (TLKM) yang 3000 per lembar saham. Minimal beli itu 1 lot (100  lembar). Sehingga untuk mulai beli Telkom saat ini itu butuh 300.000.
    Pakuwon (PWON) yang 416 per lembar saham, sehingga untuk beli Pakuwon saat ini butuh 41.600

Iya, tiga poin ketakutan itu adalah hal yang saya pikir (saya belum belajar; bukan fakta; itu asumsi) tentang saham. Dan ketika mulai cari tau, saya baru belajar banyak hal baru.

Belajar merupakan proses seumur hidup. Ketika saya beli ini, bukan berarti saya sudah paham tentang seluk-beluk saham. Tapi karena saya tau saya butuh langkah awal untuk mulai praktek. Seiring berjalannya waktu, dari pengalaman serta teori saya akan belajar.

Selanjutnya, saya akan bahas apa yang saya lakukan sebelum beli saham pertama disini.

 Saya juga baru belajar, jadi mari sama sama belajar. 
Kalian bisa comment / email kalau ada pertanyaan atau request topik diskusi lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Awal Belajar Finansial

Dana Darurat

100 Juta Pertamaku